Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juni 2017

Zakat Al-Fithr

“Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi saw mengutus seorang untuk menginformasikan ke seluruh pelosok kota Mekkah bahwasanya sha’ al-fithr diwajibkan bagi setiap muslim laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil atau dewasa, sebanyak dua mudd Qamh (gandum) atau lainnya satu sha’ Tha'am (makanan).” (HR. Tirmidzi)

“Dari Abdullah bin Umar ra berkata Rasulullah saw telah menetapkan Zakat al-Fithr satu sha’ tamr (kurma) atau syair (gandum) atas hamba sahaya atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, anak kecil maupun dewasa dari setiap muslim dan memerintahkannya agar ditunaikan sebelum orang-orang melaksanakan shalat ’Ied.“ (HR. Bukhari)

“Dari Tsa’labah bin Abu Syu’air bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Tunaikanlah satu sha’ dari Qamh atau Burr (gandum) dari setiap dua hal yakni anak kecil ataupun dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya, kaya atau faqir. Adapun orang kaya maka Allah akan mensucikannya dan adapun orang faqir maka ia dikembalikan kepadanya lebih banyak daripada ia memberi.” (HR. Ahmad)

"Dari Abu Sa’id al-Khudri berkata: Kami pernah mengeluarkan Shadaqah al-Fithr di hadapan Rasulullah satu sha’ Tha'am (makanan), Thamr (kurma), Sya’ir (gandum), Zabib (kismis), dan Aqith. Kami senantiasa melakukan itu hingga Muawiyah datang kepada kami." (HR. Ahmad)

“Dari Ibnu Umar: Bahwasanya ia lebih suka sha’ al-fithr dengan Thamr (kurma).” (Musnad Abi al-Ja’d)

Jumat, 04 November 2011

Tadlhiyah

Bukti cinta kepada Allah
Batu ujian keimanan

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.
(Qs. Al-Kautsar [108] : 1-2)

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
(Qs. Ash-Shafat [37] : 100-111)

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah). Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.
(Qs. Al-Hajj [22] : 26-38)

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
(Qs. Al-Maidah [5] : 27)

Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak.
(Qs. Al-Hadid [57] : 10-12)

Dari Abu Huraeroh ia berkata, telah berkata Rasulullah SAW. "Barangsiapa ada kelapangan, tetapi tidak bertadlhiyah maka janganlah ia dekat ke tempat shalat kita".
(Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

"Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin. Dan jangan (pula) menyantap makananmu kecuali orang yang bertaqwa".
(Hadits Riwayat Imam Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Darimi, Thabrani, Ibnu Hibban dan Abu Ya'la al-Maushily)

Rabu, 12 Januari 2011

Shalat Jum'at

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
(Qs. Al-Jumu'ah [62] : 9)

Dari ayat diatas dapat kita perhatikan bahwa keutamaan shalat jum'at lebih utama dari pada jual beli. Seperti kita ketahui bersama kegiatan jual beli tidak hanya dilakukan oleh kaum pria namun praktek tersebut juga dilakukan oleh kaum wanita. Sehingga hal ini senada dengan seruan Allah pada ayat ini bahwa yang diseru untuk meninggalkan jual beli dan menunaikan shalat jum'at adalah orang-orang yang beriman baik pria maupun wanita. Dan bahwasanya ayat-ayat Al-Qur'an akan tetap relevan di setiap zaman, pun demikian dengan ayat diatas.

Dari Thariq bin Syihab, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda "Sholat Jum'at itu hak yang wajib bagi setiap muslim dengan berjama'ah kecuali empat orang, yaitu : budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit."
(HR. Abu Dawud. Dia berkata : Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi SAW. Tetapi dikeluarkan dia oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa - Bulughul Maram : 494)


Sanad Hadits diatas adalah : Abu Dawud - Abbas Ibnul Abdul 'Adhim - Ishak Ibnu Mansyur - Huraim - Ibrahim Ibnu Muhammad Ibnu Al Muntashor - Oais Ibnu Muslim - Thariq Ibnu Syihab

  • Abbas Ibnul Abdul 'Adhim menurut penelitian Al Khattabi adalah perawi matruq. Begitu juga menurut Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid. Ibnu Hajzm dalam kitabnya Al Mukholla menyatakan Abbas Ibnu Abdul 'Adhim adalah perawi mardud.
  • Huraim menurut penelitian Imam Al Bazzar adalah perawi majhul, menurut Al Mawardi dan Ibnu Rusyd adalah perawi dhoif.
  • Thariq Ibnu Syihab sendiri tidak pernah berjumpa dan mendengar sesuatu apapun langsung dari Nabi SAW.

Seandainyapun hadits Thariq itu Shahih, maka dalam membaca pengecualian empat orang dalam hadits tersebut adalah dalam hal pelaksanaan berjamaah shalat jum'at. Sehingga shalat jum'at bagi budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit tetap wajib hanya saja dapat diselenggarakan dengan tidak wajib berjamaah.

Jika hadits diatas diartikan bahwa budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit tidak wajib shalat jum'at maka mereka shalat apa? Mengingat tidak adanya dalil yang mendasari penggantian shalat jum'at dengan shalat dzuhur dan tidak ada pula dua shalat fardhu dalam waktu yang bersamaan. Sehingga shalat jum'at memang adalah shalat fardhu di hari jum'at dan bukan pengganti shalat dzuhur.

Dirikanlah olehmu Shalat Jum'at dimanapun kamu berada (dan dalam keadaan bagaimanapun)
(HR. Ibnu Khuzaimah)

Barangsiapa menghadiri Jum'at baik laki-laki maupun perempuan hendaklah ia mandi
(HR. Jama'ah dan Ibnu Hiban - An Nail I : 296)

Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat jum'at atau shalat lainnya, maka hendaklah ia menambah rakaat lainnya yang kurang, dan dengan itu sempurnalah shalatnya.
(HR. Nasa'i, Ibnu Majah, dan Daruquthni dari Ibnu Umar ra.)

Sehingga dengan demikian khutbah jum'at bukanlah menjadi syarat sahnya shalat jum'at. Bahkan khutbah jum'at dan shalat jum'at merupakan 2 jenis ibadah yang memiliki kedudukan hukum yang berbeda. Shalat jum'at kedudukannya fardhu karena dasar perintahnya adalah Al-Qur'an sedangkan khutbah jum'at kedudukan hukumnya sunnah karena perintahnya berasal dari Al Hadits. Setiap ibadah sunnah jika tidak dilakukan maka tidak ada sanksi hukum.

Dari Aisyah ra. Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami, yang kami tidak pernah mengadakannya, maka itu tertolak"
(Shahih Muslim : 1700)

Dari Aisyah ra. Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang mengamalkan suatu amal (ibadah) yang tidak pernah kami lakukan, maka amalnya itu tertolak"
(Shahih Muslim : 1701)

Sabtu, 07 Agustus 2010

Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Qs. Al-Baqarah [2] : 183)

Pengertian

Secara bahasa, Ramadhan berasal dari akar kata ر م ﺿ, yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Hal ini memang dikarenakan keadaan Jazirah Arab pada bulan Ramadhan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih lama daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikit mereda, tetepi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadilah akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari tersebut disebut hari-hari di bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender Hijriah yang berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami "panas"nya Ramadhan dalam arti kiasan. Karena hari-hari Ramadhan tenggorokan orang berpuasa terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu a'lam.

Dari akar kata tersebut kata Ramadhan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata Ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan Ramadhan. Ramadan dalam bahasa arab berarti orang yang sakit mata hampir buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadhan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang, dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual, dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.

Ada juga yang menganggap akar kata Ramadhan berarti mengasah karena masyarakat jahiliyah pada bulan tersebut mengasah alat-alat perang mereka untuk menghadapi peperangan di bulan berikutnya. Nama Ramadhan untuk bulan kesembilan tetap dipahami sebagai mengasah, antara lain dengan arti mengasah jiwa untuk berpuasa dan amalan kebajikan lainnya.

Selain Ramadhan, bulan itu juga mempunyai beberapa nama lain, yaitu :
  1. Syahrul Qur'an (Bulan diturunkannya Al-Qur'an)
  2. Syahrush Shiyam (Bulan Pelaksanaan Puasa Wajib)
  3. Syahrush Shabr (Bulan Kesabaran)

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Qs. Al-Baqarah [2] : 185)

Dari ayat tersebut diketahui bahwa kata Ramadhan di dalam Al-Qur'an disebut di dalam konteks pembicaraan tentang kewajiban berpuasa dan masa turunnya Al-Qur'an.

Keutamaan

Keistimewaan bulan ini antara lain :
  1. Adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh
  2. Bulan diturunkannya Al-Qur'an
  3. Bulan yang yang di dalamnya terdapat Lailatull Qadr
  4. Bulan yang ditunaikan kewajiban zakat fitrah
  5. Adanya Shalat Tarawih
  6. Bulan pengampunan dosa
  7. Bulan dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka
  8. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tercantum dalam Al-Qur'an



Tujuan

Tujuan shaum di bulan Ramadhan tidak lain adalah agar kita menjadi hambaNya yang bertaqwa.

Sumber :

Senin, 14 Desember 2009

Orang yang di Anugerahi Nikmat

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(Qs. Al-Fatihah [1] : 6-7)

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
(Qs. An-Nisaa [4] : 69)


Jumat, 12 Juni 2009

Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw bersabda,"Barangsiapa yang melepaskan tangannya (baiat) dari suatu ketaatan maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa adanya hujjah (alasan) baginya. Dan barangsiapa mati sementara tanpa ada baiat di lehernya maka ia mati seperti
kematian jahiliyah."
(HR. Muslim)


Dan Siapa saja mati sedang di pundaknya tidak ada bai’at , maka ia mati seperti mati jahiliyah”.
(HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi
wasallam bersabda:،¨barang siapa yang keluar dan melepaskan diri dari ketaatan
dan menyelisihi jama'ah, lalu ia mati, maka ia mati dalam Jahiliyah. Dan barang
siapa yang berperang dibawah bendera fanatisme, dan marah karena fanatic
terhadap kelompoknya, atau mengajak umat untuk bersikap fanatic terhadap
golongannya, ataupun membela kefanatikan, lalu ia terbunuh, maka bangkainya
adalah bangkai jahiliyah. Dan barang siapa yang keluar memerangi umatku yang
maupun durhaka terhadap mereka, dan tidak peduli terhadap orang-orang yang
beriman diantara mereka, dan tidak menyempurnakan janji kepada orang-orang yang mengikat janji kepadanya, maka dia termasuk bukan golonganku, dan aku bukan pula termasuk golongannya.
(H.R Muslim).


”Siapa saja membenci sesuatu dari pimpinannya, maka bersabarlah karena
sesungguhnya Siapa saja yang keluar dari penguasa walau hanya sejengkal, maka ia
mati seperti mati jahiliyah”.
(HR. Bukhari dan Muslim)


“Siapa yang keluar dari keta’atan dan berpisah dari Al-Jama’ah kemudian ia mati. Maka matinya adalah mati jahiliyah.”


“Sesungguhnya barangsiapa yang berpisah dari Al-Jama’ah walaupun sejengkal,
maka sungguh ia telah melepas ikatan Islam dari lehernya.”


”Akan ada para Khalifah lalu menjadi banyak,”sahabat berkata : Lalu apa
yang tuan perintahkan untuk kami? , Nabi menjawab : ”Tepatilah bai’at kepada
khalifah pertama maka Khalifah yang pertama” .


”Apabila telah di bai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah khalifah yang
terakhir dari keduanya”.

Rabu, 27 Mei 2009

Ujian

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya.

(QS. Al-Baqarah: 286)

Abu Sa’id dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda : "Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan,
kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri
sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan."

(HR. Bukhari)
 
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah."

(HR. Tirmidzi)

Selasa, 26 Mei 2009

Islam itu permulaannya adalah asing, dan nanti akan kembali menjadi asing,
seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.
(Muslim)

Sabda Nabi SAW dalam hadis yang diriwayatkan dari pada Abu Hurairah RA

Rabu, 20 Mei 2009

Ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib
Jika suatu
kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib juga
hukumnya.‌

*) Taqiyuddin An Nabhani, 1953, Asy Syakhshiyah Al Islamiyah Juz III, hal. 36-37

Selasa, 19 Mei 2009

Sesungguhnya iman benar-benar akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke sarangnya.

*) Aqidah Ashhabil Hadits, 113. Hadits dikeluarkan oleh Bukhari, Muslim dan selainnya

Jumat, 12 September 2008

Apa Bentuk Komitment Saya kepada Islam ?



"... Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia..." (Al-Hajj:78)




Selama usia kehidupan, sebagian besar dari kita menjadi seorang muslim karena kedua orang tua kita muslim. Hal ini tidak bisa dinafikan karena memang melalui keturunanlah Allah memberikan nikmat terbesar ini kepada kita. Meski demikian, pada kenyataannya, kita merasa asing dengan Islam. Kita merasa, seakan-akan kita berada di satu lembah sedangkan Islam berada di lembah lain. Akibatnya, kita tidak bisa memahami Islam secara utuh, tidak dapat memahami makna komitmen kita kepada Islam, dan konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya. Tidak hanya itu, kita pun merasa enggan men-shibghah diri kita dengan nilai-nilai Islam hingga syakhshiyah Islamiyah menjadi karakter kita. Dan, jiwa kita pun sungkan untuk menggabungkan diri bersama orang-orang yang menyeru kepada Allah.

Isi buku :
Bagian Pertama : Pengantar Apa Bentuk Komitmen Saya kepada Islam ?
  • Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya
  • Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
  • Saya Harus Mengislamkan Akhlak Saya
  • Saya Harus Mengislamkan Keluarga dan Rumah Tangga Saya
  • Saya Harus Mampu Mengalahkan Nafsu Saya
  • Saya Harus Yakin Bahwa Hari Esok Milik Islam
Bagian Kedua : Apa Bentuk Komitmen Saya kepada Harakah Islamiyah ?
  • Saya Harus Mempersembahkan Hidup Saya untuk Islam
  • Saya Harus Meyakini Kewajiban Berjuang untuk Islam
  • Harakah Islamiyah : Tugas, Karakteristik, dan Bekal
  • Saya Harus Memahami Dimensi-Dimensi dalam Berkomitmen kepada Harakah Islamiyah
  • Saya Harus Memahami Pilar-pilar Perjuangan Islam
  • Saya Harus Memahami Syarat-syarat Baiat dan Keanggotaan

Lengkapnya :
Judul Buku : Apa Bentuk Komitmen Saya kepada Islam ?
Judul Asli : Madza Ya'ni Intima'i lil Islam
Penulis : DR. Fathi Yakan
Penerjemah : Asep Sobari, Lc.
Penerbit : Al-I'tishom Cahaya Umat
Tahun Terbit : 2006

Buku ini menarik hati saya untuk membelinya. Karena ketika membaca ikhtisar buku ini terdapat kata-kata yang sedang saya cari untuk mengetahui maknanya atau juga terdapat kata-kata yang berkaitan terhadap kejadian keseharian saya.

Ketika kita membaca bukunya kita harus secara utuh menyerap apa yang penulis hendak sampaikan. Karena ternyata ada juga yang menyukai sebagian isi buku ini dan menolak sebagian yang lain.

Mau tau isinya??? Baca aja dech ndiri... He3x...